(TUBERKITCOM) Kebakaran hutan dan lahan (KARHUTLA), ternyata bukan hanya terjadi di Kalimantan saja, akan tetapi menyebar di beberapa pulau di Indonesia, termasuk Jawa bagian Barat.
Hingga saat ini kebakaran hutan dan lahan yang terjadi, membakar hingga 237 hektar lahan dan hutan di Jawa Barat hingga Kamis (3/9/2026), dan kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan jumlah kejadian kebakaran terbanyak.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jabar, total ada 168 kejadian kebakaran di 186 kecamatan serta 21 kabupaten dan kota. Tidak ada warga yang menjadi korban dalam peristiwa ini.
Kabupaten Sumedang menjadi daerah dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terbanyak dengan 22 kali peristiwa. Selanjutnya ada Kabupaten Bandung (19) dan Kabupaten Majalengka (17).
Pranata Humas Ahli Muda BPBD Jabar di Bandung, Hadi Rahmat Hardjasasmita, Kamis (3/9/2026) mengatakan ”Sempat dilaporkan juga kebakaran terjadi di beberapa gunung, seperti Gede Pangrango, Guntur, dan Ciremai. Namun, api sudah padam,”.
“Peningkatan luasan karhutla berbanding lurus dengan tingginya frekuensi kebakaran sejumlah wilayah. Kondisi itu ikut dipengaruhi fenomena El Nino.” Tambah Hadi.
Oleh karena itu, Hadi meminta masyarakat menghindari pembakaran sampah atau pembersihan lahan dengan cara dibakar. Kedua hal tersebut rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
”Masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada pemerintah atau BPBD setempat apabila terjadi kondisi darurat, seperti karhutla akibat kekeringan di lingkungan sekitar,” ujarnya.
Sekilas Tentang Apa Itu El Nino
El Niño adalah fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur di atas kondisi normal.
Penyebab dan Proses
- Suhu air laut di Pasifik khatulistiwa naik;
- Angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat melemah;
- Fenomena ini terjadi secara berkala setiap dua hingga tujuh tahun.
Dampak El Nino di Indonesia
- Awan hujan bergeser ke arah Samudra Pasifik;
- Wilayah Indonesia secara umum mengalami musim kering yang lebih lama;
- Menyebabkan potensi krisis air bersih, penurunan hasil pertanian, dan peningkatan titik api kebakaran hutan.
El Nino merupakan fenomena interaksi laut dengan atmosfer di Samudra Pasifik. Ketika El Nino terjadi, perubahan suhu muka laut dan sirkulasi atmosfer dapat mengurangi pasokan uap air ke sebagian wilayah Indonesia sehingga curah hujan menurun.
Kejadian El Nino 2026-2027 diprediksi mempunyai tingkatan dalam kategori kuat dan sangat kuat. Hal itu merujuk pada klasifikasi intensitas berdasarkan besarnya anomali suhu muka laut yang dipantau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lembaga iklim dunia.
Himbauan Dan Peringatan Dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi resmi melarang sementara seluruh aktivitas pendakian gunung dan kawasan hutan di Jawa Barat selama musim kemarau. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di berbagai wilayah.
Larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor 116/KH.02.04.03/ASDA EKBANG yang diterbitkan pada 30 Agustus 2026. Dalam aturan itu, seluruh aktivitas pendakian gunung dan kawasan hutan dihentikan sementara hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Dedi Mulyadi menjelaskan, kebijakan tersebut bertujuan untuk meminimalkan potensi kebakaran hutan selama musim kemarau. Aktivitas pendaki, seperti menyalakan api unggun, memasak di kawasan hutan, maupun membuang puntung rokok sembarangan, dikhawatirkan dapat memicu kebakaran ketika kondisi vegetasi sedang kering.
Keputusan ini juga didasarkan pada meningkatnya jumlah kejadian karhutla di Jawa Barat. Berdasarkan data BPBD Jawa Barat hingga 31 Agustus 2026, tercatat 156 kejadian kebakaran hutan dan lahan dengan total luas area terdampak mencapai sekitar 228,07 hektare. Kebakaran tersebut tersebar di 178 desa atau kelurahan yang berada di 107 kecamatan.
Melalui surat edaran tersebut, Dedi Mulyadi juga menginstruksikan seluruh pengelola kawasan pegunungan dan hutan untuk memperketat pengawasan, meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat, serta melakukan berbagai langkah pencegahan terhadap aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Baca Juga: Pengaruh Asap Serta Limbah Rokok Bagi Alam Dan Lingkungan
Sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut, Taman Nasional Gunung Ciremai turut mengumumkan penutupan sementara seluruh jalur pendakian. Penutupan akan mulai berlaku pada 6 September 2026, sedangkan layanan booking pendakian secara daring telah dihentikan sejak 1 September 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengimbau masyarakat untuk mematuhi aturan tersebut demi menjaga kelestarian hutan dan meminimalkan risiko kebakaran selama musim kemarau. Jalur pendakian akan kembali dibuka setelah kondisi dinilai aman dan tingkat kerawanan kebakaran menurun.
