September 19, 2026
gunung merapi

(TUBERKITCOM) Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mengalami erupsi menerus sejak Jumat malam, 4 September 2026, dengan status siaga. Sebenarnya status Level III atau Siaga sudah ditetapkan sejak 2 Juli 2026 oleh Badan Geologi.

Berdasarkan catatan dari Magma Indonesia milik Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), ini merupakan aktivitas vulkanik terbaru Gunung Anak Krakatau.

Seorang warga Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, Mohd Rizqi Baidullah, mengaku masih merasakan getaran dan dentuman keras di tengah erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Dia mengatakan kondisi tersebut membuat masyarakat panik hingga sebagian mengungsi.

“Getaran jendela dan dentuman keras sesekali ini sudah kami rasakan sejak jam 2 dini hari tadi,” kata Rizqi Sabtu (5/9/2026). (detik.com)

“Sempat kami kira hanya terasa di rumah kami saja tapi tadi pagi ternyata tetangga-tetangga kami semuanya sama merasakan,” sambungnya.

Letusan tipe Strombolian menghasilkan semburan lava pijar menyerupai air mancur (lava fountain) dan suara gemuruh yang terdengar hingga ke Pos Pengamatan. Masyarakat dan wisatawan dilarang mendekati kawah dalam radius 3 kilometer.

Suara Dentuman Hingga Wilayah Jawa Barat

Sejumlah warga mengaku mendengar suara dentuman cukup kuat dan berulang. Bahkan, getaran akibat suara tersebut disebut terasa hingga membuat kaca jendela dan pintu rumah bergetar.

Laporan serupa juga muncul dari warga Bandung. Dentuman dan suara gemuruh disebut terdengar berulang dengan jarak waktu yang semakin rapat hingga sekitar pukul 05.00 WIB.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi  (PVMBG) Rita Susilowati mengatakan, suara dentuman juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Pasauran, Banten.

Menurut Rita, laporan suara serupa juga diterima dari sejumlah wilayah Banten dan Jawa Barat. Kemunculan suara dentuman tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang terjadi pada waktu bersamaan. (tribunnews.com)

“Gunung api Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai dengan suara gemuruh. Sampai saat ini tanggal 5 September 2026, pukul 04.40 wib masih berlangsung erupsi menerus dan masih terdengar gemuruh dari Pos PGA Krakatau Pasauran dari erupsi menerus GAK,” kata Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangannya, Sabtu (5/9/2026). (detik.com)

Kendati demikian, kata Lana, erupsi tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Dia menyebut perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pascaerupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami. Meskipun demikian, perkembangan aktivitas dan perubahan morfologinya tetap dipantau secara intensif,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *