(TUBERKIT) Indonesia hari ini, Jumat 2 Oktober 2026 memperingati Hari Batik Nasional 2026. Seluruh ASN, pelajar hingga pegawai BUMN kompak mengenakan batik sebagai wujud cinta warisan dunia.
Di balik peringatan Hari Batik Nasional, tersimpan catatan sejarah panjang perjuangan bangsa dalam mempertahankan pengakuan dunia internasional terhadap warisan budaya leluhur.
Sekilas Tentang Batik Dan Sejarah Hari Batik Nasional
Batik merupakan seni tradisional yang sarat akan filosofi dan identitas budaya bangsa Indonesia. Sejarah pembuatan batik sendiri sudah mendarah daging sejak zaman kerajaan kuno, seperti Kerajaan Majapahit dan Mataram, di mana motif-motifnya dulu hanya terbatas di lingkungan keraton
Batik (Bahasa Jawa: ꦧꦛꦶꦏ꧀, translit. Bathik) adalah kain bergambar yang pembuatannya dilakukan secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam pada kain, kemudian mengolahnya melalui cara tertentu sehingga memiliki kekhasan sebagai keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang terkait. (Wikipedia)
Teknik seni kain yang mirip batik dapat ditemukan pada berbagai kebudayaan di dunia seperti di Nigeria, Tiongkok, India, Malaysia, Sri Lanka dan daerah-daerah lain di Indonesia. Batik pesisir Indonesia dari pulau Jawa dan Madura memiliki sejarah akulturasi yang panjang, dengan corak beragam yang dipengaruhi oleh berbagai budaya, serta paling berkembang dalam hal pola, teknik, dan kualitas pengerjaan dibandingkan batik dari daerah lain.
Batik telah dianggap oleh masyarakat sebagai ikon budaya penting di Indonesia. Masyarakat Indonesia mengenakan batik sebagai busana kasual dan formal yang dapat digunakan dalam beragam acara.
Walaupun kata “batik” berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa teknik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7.
Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (sejarawan Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme, tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik. (Wikipedia)
Baca Juga: Presiden Prabowo Menggelar Rapat Di Istana Merdeka: Sekolah Negeri, Dari TK Hingga PTN Akan Gratis
Hari Batik Nasional bukan sekadar seremonial. Sejarahnya berawal dari perjuangan panjang Indonesia di kancah dunia.
Batik pertama kali diperkenalkan ke dunia internasional oleh Presiden Soeharto saat konferensi PBB. Kemudian pada 4 September 2008, pemerintah Indonesia melalui Menko Kesra resmi mendaftarkan batik ke UNESCO di Jakarta.
Puncaknya terjadi pada 2 Oktober 2009 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Dalam sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah, UNESCO resmi menetapkan Batik Indonesia sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi (Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity). (Wikipedia)
Sebagai tindak lanjut, Presiden SBY menerbitkan Kepres No 33 Tahun 2009 yang menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Sejak itu setiap 2 Oktober kita rayakan.
Pengakuan global ini merupakan prestasi besar bagi diplomasi budaya Indonesia. Sebagai bentuk rasa syukur dan upaya melestarikan warisan berharga tersebut, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 33 Tahun 2009 secara resmi menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. (suara.com)
Memperingati Hari Batik Nasional bukan sekadar mengenakan baju batik, melainkan bentuk komitmen nyata kita untuk terus mencintai, merawat, dan menghargai karya perajin lokal agar warisan luhur ini tidak lekang oleh zaman.
