(TUBERKITCOM) Pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang memiliki peran penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memajukan pembangunan daerah. Dapat dikatakan Pariwisata Indonesia saat ini semakin berkembang, dan sangat menjanjikan terutama dalam memberikan banyak manfaat bagi pemerintah, masyarakat, dan swasta.
Ini karena pariwisata adalah sektor yang diandalkan oleh pemerintah untuk mendapatkan keuntungan, dan bagi masyarakat untuk menciptakan lapangan kerja.
Menurut Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, pariwisata mencakup berbagai aktivitas wisata yang didukung oleh fasilitas dan layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah.
Dalam sumber lain juga dijelaskan Pariwisata adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh manusia di luar lingkungannya dalam jangka waktu tertentu, secara sementara untuk bersenang-senang, mencari pengalaman baru, dan memuaskan rasa ingin tahunnya (Nuarta, 2019)
Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dalam pembangunan ekonomi dan sosial suatu daerah. Keberadaan pariwisata dapat membawa berbagai manfaat, seperti peningkatan pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan pekerjaan, dan pelestarian budaya. Namun, pariwisata juga dapat menimbulkan dampak negatif, seperti perubahan sosial budaya, kerusakan lingkungan, dan konflik sosial (Febriani, 2019).
Dari beberapa penjelasan definisi pariwisata di atas dapat dikatakan juga Indonesia, dengan kekayaan alam dan budayanya yang melimpah, memiliki potensi pariwisata yang sangat besar. Dari Sabang hingga Merauke, terdapat berbagai destinasi wisata yang menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Pariwisata di Indonesia tidak hanya terbatas pada kawasan-kawasan wisata yang sudah terkenal seperti Bali, Yogyakarta, atau Jakarta, tetapi juga merambah ke daerah-daerah lain yang memiliki potensi wisata yang unik dan belum banyak tereksplorasi.
Peningkatan Jumlah Perjalanan Wisatawan Nusantara
Jumlah perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) di Indonesia mencapai 107,44 juta perjalanan pada Juli 2026. Jawa Barat menjadi provinsi tujuan favorit dengan 18,86 juta perjalanan, tertinggi dibandingkan daerah lain di Indonesia. Pergerakan Wisnus Masih Jauh dari Target, Bentuk Negara Kepulauan Jadi Kendala “Jumlah perjalanan wisnus Juli 2026 tercatat sebesar 107,44 juta perjalanan, mengalami kenaikan 0,23 persen dibandingkan Juni 2026 (m-to-m) dan naik 7,23 persen dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya (y-on-y),” dikutip dari siaran resmi Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (4/9/2026). Secara kumulatif, jumlah perjalanan wisnus selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 737,85 juta perjalanan. (travel.kompas.com)
Angka tersebut naik 3,34 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 713,98 juta perjalanan. Berdasarkan daerah tujuan, Pulau Jawa masih menjadi tujuan utama perjalanan wisatawan nusantara pada Juli 2026. Jumlah perjalanan wisnus menuju Pulau Jawa mencapai 69,08 juta perjalanan atau sebesar 64,29 persen dari total perjalanan wisnus di Indonesia. (travel.kompas.com)
Jawa Barat menjadi provinsi tujuan perjalanan dengan jumlah tertinggi yakni mencapai 18,86 juta perjalanan. Setelah Jawa Barat, Jawa Timur menjadi provinsi tujuan favorit kedua dengan 17,31 juta perjalanan. Sementara itu, Jawa Tengah berada di posisi ketiga dengan 14,39 juta perjalanan.
Meski Jawa Barat menjadi tujuan dengan jumlah perjalanan wisnus tertinggi, pertumbuhan perjalanan secara tahunan tertinggi tercatat di Jawa Tengah. Jumlah perjalanan wisnus menuju Jawa Tengah pada Juli 2026 meningkat 29,44 persen dibandingkan Juli 2025.
Pertumbuhan tertinggi berikutnya tercatat di Daerah Istimewa Yogyakarta yang naik 21,68 persen, kemudian Sulawesi Selatan sebesar 18,57 persen. Di sisi lain, Bali mencatat penurunan jumlah perjalanan wisnus sebesar 0,61 persen dibandingkan Juli 2025. Secara bulanan, jumlah perjalanan menuju Bali juga turun 8,58 persen dibandingkan Juni 2026. (travel.kompas.com)
Pariwisata Berkelanjutan Diikuti Dengan Perjalanan Dan Pariwisata Yang Bertanggung Jawab
Pariwisata Berkelanjutan
Pariwisata berkelanjutan didefinisikan oleh Program Lingkungan PBB dan Organisasi Pariwisata Dunia PBB sebagai “pariwisata yang sepenuhnya mempertimbangkan dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan saat ini dan di masa mendatang, serta memenuhi kebutuhan pengunjung, industri, lingkungan, dan komunitas tuan rumah.” (www-gstc-org)
Selai itu, pariwisata berkelanjutan “merujuk pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial-budaya dari pengembangan pariwisata, dan keseimbangan yang tepat harus dibangun antara ketiga dimensi ini untuk menjamin keberlanjutannya dalam jangka panjang” (UNEP & UNWTO, 2005: 11-12. Membuat Pariwisata Lebih Berkelanjutan–Panduan untuk Pembuat Kebijakan ). (www-gstc-org)
Baca Juga: Duduk Perkara Isu Liar Rumah Dinas Wabup Sumedang dan Respons Para Pihak
Pariwisata Berkelanjutan merujuk pada praktik-praktik berkelanjutan di dalam dan oleh industri pariwisata. Ini adalah sebuah aspirasi untuk mengakui semua dampak pariwisata, baik positif maupun negatif.
Tujuannya untuk meminimalkan dampak dan memaksimalkan dampak positif. Pariwisata berkelanjutan memberikan dampak positif berupa pelestarian lingkungan dan ekonomi yang stabil, namun tetap memiliki tantangan berupa risiko pembatasan akses dan biaya operasional yang tinggi. (www-gstc-org)
Dampak Positif
- Menjaga alam: Melindungi ekosistem dan satwa liar dari kerusakan;
- Mendukung warga lokal: Memberikan pendapatan yang adil bagi masyarakat sekitar;
- Melestarikan budaya: Menjaga tradisi lokal agar tetap lestari dan dihargai;
- Hemat energi: Mengurangi jejak karbon melalui praktik ramah lingkungan.
Dampak Negatif Beserta Tantangannya
- Kebocoran ekonomi berupa biaya mahal: Harga layanan wisata atau produk ramah lingkungan biasanya lebih tinggi;
- Kerusakan lingkungan alam dan kepadatan penduduk yang berlebihan;
- Pembatasan jumlah pengunjung untuk melindungi alam dapat mengurangi peluang kunjungan massal;
- Perencanaan dan regulasi yang ketat membuat pengembangan destinasi berjalan lambat;
- Risiko greenwashing atau klaim ramah lingkungan palsu oleh pelaku usaha demi menarik wisatawan.
Perjalanan Dan Pariwisata Yang Bertanggung Jawab
Pariwisata yang bertanggung jawab adalah kegiatan wisata yang menjaga kelestarian alam, melindungi lingkungan, dan menyejahterakan warga lokal. Pariwisata Bertanggung Jawab merujuk pada perilaku wisatawan individu yang berupaya membuat pilihan sesuai dengan praktik pariwisata berkelanjutan. Perilaku tersebut biasanya selaras dengan meminimalkan dampak negatif dan memaksimalkan dampak positif ketika seseorang mengunjungi destinasi wisata.
Sementara perjalanan bertanggung Jawab adalah istilah yang merujuk pada perilaku dan gaya para pelancong individu. Perilaku tersebut selaras dengan upaya memberikan dampak positif bagi destinasi, bukan dampak negatif.
Mengapa Tanggung Jawab Dalam Pariwisata Itu Penting
- Mencegah kerusakan ekosistem dan polusi akibat sampah atau jumlah pengunjung yang terlalu padat;
- Menjaga sumber daya alam agar tetap indah untuk generasi masa depan;
- Mendukung ekonomi warga lokal tanpa merusak budaya dan habitat asli.
Cara Berwisata Secara Bertanggung Jawab
- Bawa sampah sendiri dan tidak membuang sampah sembarangan di tempat wisata;
- Kurangi plastik sekali pakai selama perjalanan;
- Hormati satwa dan tumbuhan dengan tidak merusak atau mengambil apa pun dari alam;
- Gunakan transportasi umum atau berjalan kaki saat berada di lokasi wisata;
- Dukung ekonomi lokal dengan membeli produk atau jasa dari warga sekitar.
